Orijinalitas entah ada di mana. Sejak pertama saya mulai menulis, saya tahu: gaya tulisan saya tidak kedap pengaruh penulis yang saya gandrungi. Dari Quraish Shihab sampai Slavoj Zizek, dari Goenawan Mohamad sampai Milan Kundera, semua penulis yang tulisannya saya baca; saya contek!! Ada yang nyonteknya sadar, dan ada yang tidak. Dan saya yakin saya tidak sendirian. Entah bagaimana, sebuah kata pun ada trennya. Saya ingat ketika orang doyan sekali menggunakan kata “alih-alih”. Kesannya intelektual. Kesannya kata itu baru. Nah, ilmuwan dari Swedia mengaku sudah menemukan semacam sidik jari penulis, yang dengannya kontroversi plagiarisme dan pinjam-meminjam gaya tulisan bisa dilacak. Yang saya maksud ilmuwan ini fisikawan, loh, bukan biologiwan atau apalagi psikolog. Makanya, aneh bukan? Kata si empu blog pada situs The New Yorker, para ilmuwan ini ‘menemukan’ semacam meta-buku, yang merupakan representasi dari word-frequency curve atau kurva penggunaan kata-kata yang konon kata para ilmuwan itu unik pada setiap pengarang. Hoho…meta-buku? Anda percaya? Entahlah, saya sih sering nubruk blog orang asing yang gaya tulisannya mirip sekali dengan saya sampai saya berfikir saya sedang membaca tulisan saya sendiri dan bertanya: “did I happen to write this?“
Advertisement
ah … saya bukan orang yang terlalu terpukau olah jargon-jargon originalitas, bagaimanapun … sejak lahir kita sudah dipaksa untuk menjadi seorang peniru.
^
Sama saya juga. Makanya aneh kalo ada ilmuwan yang bilang bisa menentukan sidik jari pengarang.
ada2 saja… halah…
Orisinalitas
Sepertinya bagus juga kalau dibuat nisan orisinalitas, besar-besar… segede gaban, sebagai pengingat kalau orisinalitas sudah lama mati.
Lalu mungkin setelahnya, tak ada lagi yang kebakaran jenggot, berteriak karyanya dibajak.
Yah daripada dibilang maling teriak maling
Penulis blog ini sendiri mengingatkan saya pada penulis blog ini. Wajah manusia dan wajah blog boleh berbeda-beda, tapi tunggal ika juga kata burung anonimus bernama Garuda Pancasila
Kita bukan peniru, cuma epigon :-”
Tapi gaya penulisan memang ngga bisa dirubah. Contohnya seperti di blog ini maupun di blog satunya, gayanya kawan Gentole atau Ali Sastro itu ya sama saja.. tetap menarik untuk dibaca.
Mungkin suatu saat akan ditemukan meta-soul. Mau dia menulis, atau melukis, atau mengendarai mobil, atau lagi maki-maki orang, ada suatu fractal pattern yang sama dari setiap jiwa. yang jelas sih sekarang baru ada Javanese-meta-soul-words. Nggilani, kemaki, kemlinthi, biayayakan, dan penthalitan.
*another imagination nggilani*